Upaya Pustakawan Dalam Meningkatkan Minat Baca Siswa Di SMK PGRI Turen Malang


BAB I

PENDAHULUAN


A.    Latar Belakang Masalah

 Landasan dan cita-cita yang ingin dicapai oleh pemerintah adalah menjadikan rakyat dan bangsa Indonesia dimasa yang akan datang agar menjadi manusia yang berpendidikan, cerdas, terampil dan berakhlak mulia.

Sebagaimana disebutkan dalam pembukaan Undang-undang Dasar 1945 alinea keempat, bahwa salah satu tujuan pembangunan nasional adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Penjabaran tersebut kemudian dituangkan dalam batang tubuh UUD 1945 Bab XIII tentang pendidikan, pasal 31 ayat 1 dan 2 yang berbunyi sebagai berikut:

  1. Tiap warga Negara berhak mendapatkan pengajaran
  2. Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pengajaran Nasional yang diatur dengan Undang-undang[1]
Pendidikan adalah sesuatu yang sangat penting bagi setiap insan sebagai upaya untuk mengarahkan dan mengembangkan dirinya menjadi sosok makhluk yang mempunyai kepribadian utama. Dalam upaya untuk mencapai cita-citanya  pemerintah meningkatkan taraf hidup rakyat pada tingkat yang lebih baik. Maka pemerintah memberikan kesempatan kepada seluruh warga Negara untuk mendapatkan pengajaran (pendidikan) tanpa memandang status sosial, golongan dan lain sebagainya.
Adapun tujuan pendidikan Nasional yang dijelaskan dalam Undang-undang Republik Indonesia No.20 tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional pada Bab II pasal 3 yang berbunyi:
"Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokrasi serta bertanggung jawab". [2]

Untuk merealisasikan tujuan tersebut, maka diperlukan sarana dan prasarana pendidikan yang memadai guna mempermudah dalam proses belajar mengajar dan sekaligus untuk mengangkat serta meningkatkan prestasi belajar siswa.
Adapun salah satu dari sarana dan prasarana pendidikan adalah Perpustakaan, dimana perpustakaan adalah salah satu sumber informasi dan ilmu pengetahuan.
Karena perpustakaan adalah sumber informasi dan ilmu pengetahuan, oleh karena itu perpustakaan tidak dapat dipisahkan dari Sekolah. Mengingat begitu pentingnya keberadaan perpustakaan dalam upaya untuk mengembangkan intelektual siswa dan meningkatkan prestasi belajar siswa, maka perlulah kiranya digalakkan adanya perpustakaan pada semua jenis dan tingkat sekolah. Hal ini sesuai dangan ketetapan MPR No. II/MPR/1993 yang berbunyi sebagai berikut:
"Sarana dan prasarana pendidikan seperti perpustakaan, laboratorium, bengkel kerja, sarana ketrampilan dan penelitian, media pengajaran, teknologi pendidikan serta fasilitas jasmani dikembangkan dan disebar luaskan secara merata untuk membantu terselenggaranya dan meningkatkan kwalitas pendidikan sesuai dangan persyaratan pendidikan serta kebutuhan pembangunan."[3]

Dalam upaya untuk meningkatkan mutu pendidikan di negara kita ini, maka penyelenggaraan (pengelolaan) perpustakaan harus dilakukan secara sistematis dan sesuai dengan pedoman penyelenggaraan yang berlaku, agar sesuai dengan tujuan didirikannya perpustakaan itu sendiri, antara lain agar tumbuh (timbul) kecintaan terhadap membaca, memupuk dan menanamkan kebiasaan membaca sehingga tumbuh kecintaan terhadap buku.
Kemampuan membaca yang dimiliki oleh seseorang merupakan modal utama dalam proses belajar mengajar. Dengan kata lain kemampuan membaca merupakan prasyarat utama dan merupakan kebutuhan pokok bagi seseorang untuk mencapai keberhasilan. Karena dengan membaca seseorang dapat dengan mudah untuk mengkaji berbagai ilmu pengetahuan.
Aktifitas membaca ini dipengaruhi oleh beberapa faktor yang dapat mendorong terwujudnya kegiatan tersebut. Adapun salah satu faktor yang mempengaruhi kegiatan membaca adalah minat. Minat mempunyai peran sangat penting dan menempati posisi vital dalam aktifitas membaca (belajar) siswa, karena minat mempunyai daya dorong yang kuat terhadap terwujudnya suatu aktifitas.
Minat mempunyai arti sikap jiwa seseorang termasuk tiga fungsi jiwanya yaitu kognitif (pengenalan), emosi (perasaan), dan konasi (kemauan) yang tertuju pada sesuatu, dan dalam hal ini unsur emosi adalah yang terkuat.[4] Namun apabila pembaca tidak mempunyai minat atau daya dorong untuk membaca, maka kegiatan membaca tidak akan terlaksana.
Besar kecilnya minat baca itu sendri juga dipengaruhi beberapa faktor, baik yang bersumber dari dalam diri siswa itu sendiri (faktor intern), maupun dari luar diri siswa (faktor ekstern). Adapun faktor internal menyangkut kerajinan, kecakapan dasar (skill), dan kecerdasan. Sedangkan faktor eksternal diantaranya adalah keadaan keluarga, kondisi sekolah dan kondisi masyarakat.
Agar minat baca siswa tumbuh dan berkembang, maka salah satu upaya yang bisa dilakukan adalah dengan melengkapi koleksi (bahan pustaka) yang ada, mengatur situasi dan kondisi dengan sebaik mungkin, melaksanakan tata kerja (mengorganisir) perpustakaan sesuai dangan sistem penyelenggaraan yang ada, sehingga siswa merasa betah dan nyaman serta senang berada (membaca) di dalam perpustakaan.
Untuk mengetahui seberapa jauh manfaat dan fungsi perpustakaan di sekolah dalam upaya untuk membantu meningkatkan prestasi dan minat baca siswa, maka perlu adanya penelitian dan penjajakan pada perpustakaan tersebut secara ilmiah serta sampai sejauh mana peranan perpustakaan dalam meningkatkan minat baca siswa. Dalam hal ini penulis akan melihat secara langsung dan mengadakan penelitian di SMK PGRI Turen.
Berangkat dari paparan latar belakang di atas, maka terumuslah suatu judul: “UPAYA PUSTAKAWAN DALAM MENINGKATKAN MINAT BACA SISWA DI SMK PGRI TUREN”

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

UPAYA PENINGKATAN PROFESIONALISME GURU DALAM PROSES BELAJAR MENGAJAR DI MTs N MALANG I


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah
Dalam era pembangunan dan negara yang sedang berkembang seperti Indonesia ini, guru mempunyai  peranan penting dalam mengabdi untuk meningkatkan kecerdasan bangsa termasuk bimbingan pada generasi mendatang, maju mundurnya suatu bangsa ditentukan oleh seorang pendidik. Oleh karena itu seorang guru mempunyai kewajiban secara langsung untuk mengawasi dan membantu proises belajar pada peserta didik dan anak didik.
Seorang guru sehubugan dengan tugasnya dalam memantau atau mengembangkan pembelanjaran inulah, maka guru dapat disebut sebagai ujung tombak pembaharuan yang berhasil, menjadi pendukung nilai-nilai dalam masyarakat, menciptaan kondisi  belajar yang baik serta menjamin keberhasilan penidian maja guru harus meningkatkan kompetensinya, yakni kompetensi personal, kompetensi sosial, kompetensi  profesional. Kompetensi personal adalah tugas tergadap diri sendiri sedangkan kompetensi sosial adalah berhubungan dengan kehidupan bersaama manusia untuk dapat bergaul dengan sesama manusia dituntut adanya kemamuan berinteraksi dan, memenuhi berbagai persyaratan antara lain saling tolong menolong, saling menghargai, saling tenggang rasa, dan mau membela brsama. Kompetensi profesional guru adalah seseoarang yang bertugas untuk atau menyamaikan ilmu pengetahuan, kecakapan kepada peserta didik yang ertujan untk mengembangkan seluruh aspek pribadi.
Ketiga kompetensi tersebut datas sudah jelas sekai, sangat mempengaruhiproses belajar mengajar, namun yang paling mendasar dan harus dimiliki oleh guru adalah kometensio profesional, kompetensi profesional ini diperlukan suatu kemampuan dalam mewujutkan dan membina kerja sama dengan semua pihak yang ikut bertanggung jwab terhadap proses pendidikan anak, kerja sama tersebut diselenggarakan oleh orang tua urid, pimpinan sekolah, masyarakat sekitar dan bahkan dengan murid yang dihadainya sehari-hari.[1]
Jabatan guru bukan hanya menuntut kemampuan spesialisa keguruan dalam arti menguasai pengetahuan akademik dan kemahiran profesional yang relevan dengan bidang tugasnya sebagai guru, akan tetapi juga pada tingkat kedewasaan dan tanggung jawab serta kemandirian yang tinggi. Kemampuan-kemampuan itu membuat guru memiliki nilai lebih dan kewibawaan yang tinggi terhadap peserta didik.
Guru merupakan salah sat komponen manusiawi dalam proses belajar megajar yang sangat berperan dalam usaha pembentukan sumberdaya manusia yang potensial dibidang pembangunan. Oleh karena itu guru sebagai salah satu unsur dibidang pembangunan. Oleh karena itu guru sebagai salah satu unsur dibidang pendidikan harus berperan akif dan menempatkan kedudukan sebagai tenaga profesional, sesuai dengan tuntutan masyarakat yang seakin berkembang, hal ini dapat diartikan bahwa pada setiap guru  terltak tangguung jawab untuk memawa para siswa kepada suatu kedewasaan atau taraf pematangan tertentu  dalam rangka ini gurutidak semata-semata sebagai salah pengajar yang hanya menstransfer ilmu pengetahuan,tetapi juga sebagai pendiik dan pembimbing yang memberikan pengarahan dan menuntun siswa dalam belajar.[2]
Diakui atau tidak, guru akan selalu menjadi unsur penting yang menentukan berhasil atau tidaknya sutu pendidikan. Oleh karena itu maka guru selalu berperan dalam pembentukan sumberdaya manusia yang pontensial dibidang pembangunan bangsa dan negara. Guru adalah orang kedua setelah orang tua yang selalu mendidik dan memgawasi anak, untuk menuju cita-cita dan tujan hidupnya. Oleh karena seorang guru harus memiliki dedikasi yang sangat tinggi dan profesi yang dipilihnya itu bukan pekerjaan samingan sebab diakui atau tidak gurulah yang menentukan keberhasilan anak.
Tidak semua orang dewasa dapat dikategorikan sebagai pendidik atau guru, karena guru harus memiliki benerapa persaratan yang harus dipenuhi oleh setiap calon pendidik atau guru sebagaimana yang telah ditetapkan dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional, bahwa untuk dapat diangkat sebagai tenaga pengajar, tenaga pendidik yang bersangkutan harus memiliki kualifikasi minimum dan sertifikasi sesuai dengan jenjang kewenangan mengajar sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujutkan tujuan pendidikan nasional.[3]
Peranan guru dalm proses belajar proses belajar mengajar dirasaan sangatlah besar pengaruhnya terhadap perubahan tingkah laku anak didik. Untuk dapat mengubah tingkah lau anak didik sesui dengan yang diharapkan maka diperlukan seseorang guru yang profesional, jyaitu seorang gru yang mamu menggunakan komponen-komponen pendidikan sehingga proses pendidikan dapat berjalan dengan baik.
Dari pekerjaan diatas dapat diketahui profesionalisme guru sangat penting dalam melaksanakan proses dalam belajar mengajatr dan dalam mencapai tujuan pendidikan. Profesionalisme ini dirasakan sangat penting seirng dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Dengan demikian jelasnya bahwa mutu pendidikan dan profesionalisme gru memiliki kaitan yang sangat erat dan salaing mempenaruhi proses pencapaian tujuan pendidikan. Jika guru profrsionalisme yang tiggi dalam pendidikan maka, secara otoimatis mutu pendidikan akan tingi pula. Sehingga hal ini akan berpengaruh pada masa depan anak didik sendiri maupun bangsa dan negara.
Berdasarkan uraian diatas, maka dalam pembahasan sekripsi ini penulis mengambil judul mengenai “Upaya Peningkatan Profesionalisme Guru Dalam Proses Belajar Mengajar di MTsN Malang I”. Pemilihan judul tersebut diharapkan mampu memberikan sedikit gambaran mengenai upaya dalam meningkatkan profewsionalisme guru, selanjutnya dapat memerikan motifasi bagi para ilmuan untuk meneliti pendidikan lainnya.

B.     Rumusan Masalah
Berpegang dari latar belakang diatas serta dasar pemikiran yang terdapat didalamnya maka dapat diambil rumusan masalah sebagai berikut:
1.      Bagaimana profesionalisme guru dalam proses belajar mengajar di MTsN Malang I?
2.      Bagaimana upaya peningkata profesionalisme guru dalam proses belajar mengajar di MTsN Malang I?
3.      Faktor apa yang mempengaruhi upaya peningkatan profesionalisme guru dalam proses belajar mengajar di MTsN Malang I?
C.    Tujuan Penelitian
Dari perumusan masalah tersebut gdiatas maka dalam penelitian ini bertujuan:
1.      Mendiskripsikan profesionalisme guru dalam proses belajar mengajar di MTsN Malang 1.
2.      Mendiskripsikan upaya peningkatan profesionalisme guru dalam proses belajar mengajar di MTsN Malang 1.
3.      Mendiskripsikan faktor yang mempengaruhi upaya peningkatan profesionalisme guru dalam proses belajar mengajar di MTsN Mlang 1.
D.    Kegunaan Penelitian
Hasil yang diperoleh dari penuis ini diharapkan memiliki kegunaan sebagai berikut:
1.      Untuk menambah pengalaman dan wawasan baru sebagai wadah dan wahana untk mengmbangkan penfgetahuan dan cakrawala berfikir, khususnya dalam dalam bidang pendidikan, sehingga dapat diharapkan apabila sudah terjun dilapangan dapat mampu membantu guru yang erat kaitannya dengan pelaksanaan itu sendiri.
2.      Bagi kepala sekolah hasil penelitian ini dapat dijadikan bahan pertimbangan untuk menetapkan suatu keputusan dan kebijakan dalam rangka peningkatan profesionalisme guru yang sekaligus untuk mencapai hasil-hasil yang optimal dalam melaksanakan program pendidikan dan pengajaran.
3.      Bagi guru dari sekolah yang bersangkutan dapat dijadikan umpan balik (feedback)  untuk menilai profesionalisme yang dimiliki dalam kegiatan belajar mengajar dan melaksanakan tugs pendidikan. Disaming itu dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan untuk meningkatkan profesionalisme yang telahdimiliki oleh guru-guru atau sekolah yang bersangkutan.
E.     Ruang Lingkup Pembahasan
Untuk menghindari kesimpangan siuran dan perluasan masalah dalam pembahasan sekripsi ini sekaligus untuk mempermudah pemahaman, maka perlu dibatasi ruang lingkup pembahasanya berkaitan dengan judul sekripsi, antara lain:
1.      Tentang profesionalisme guru dalam belajar mengajar
2.      Tentang kegiatan upaya peningkatan prfesionaisme guru dalam proses belajar mengajar.
3.      Tentang faktor yang mempengaruhi upaya peningkatan profesionalisme guru dalam proses belajar mengajar.

F.     Metode Pembahasan dan Penelitian

1.      Metode Pembahasan
                  Pembahsan dalam sekripsi ini menggunakan beberapa metode sebagai berikut:
a.      Metode Induksi
Metode induksi adalah suatu pembahasan dengan jalan menguraikan dari hal-hal yang bersifat khusus kumudian menarik kesimpulan secara umum atau dengan kata lain pembahasab dari hal-hal bersifat khusus menuju suatu kesimpulan. Hal ini sesuai dengan apa yang dikatakan Sutrisno Hadi yaitu” berfikir induktif berangkat dari fakta-fakta yang khusus, peristiwa-peristiwa yang kongkrit, kem9dian dari fakta-fakta atau peritiwa-peritiwa yang kongkritr itu ditari generalisasi-generalisasi yang mempunyai sifat umum”[4], metode induksi ini penulis pakai untuk memperoreh informasi yang relevan dengan tujuan penelitian.
b.      Metode Deduksi
Metode deduksi adalah cara berfikir yang berangkat darisuatu peristiwa-peristiwa yang umum, kemudian ditarik kesimpulan yang bersifat khusus. Hal ini sesuai dengan pernyataan Sutrisno Hadi bahwa dari deduksi kita berangkat dari pengetahuan yang bersifat umum dan bertitik tolak pada pengetahuan umumnya itu hendak menilai sesuatu kejadian yang khusus.[5]
2. Metode Penelitian
a. Penentuan Populasi dan Sampel
Dalam suatu penelitian, menentukan populasi dan sampel adalah suatu keharusan dengan suatu pwersyaratan-persyaratan yang harus dipenuhi. Dengan kata lai, apabila populasi dan sampel sudah ditentukan, maka barulah suatu penelitian dapat dilaksanakan, sehingga varuiabel yang akan diteliti dan akan diukur jelas an tertentu an memudadahkan penelitian itu sendiri.
Suharsimi arikunto mengatakan bahwa” apabila seseorang inin meneliti semua elemen yang ada dalam wilayah penlitian, maka penelitian merupakan penelitian populasi”[6]. Dari pendapat tersebut dapat difahami bahwa ppulasi adalah totalitas yang menjadi sasaran penelitian yang memiliki karakteristik tertentu dan dapat diketahui secara jelas.
Sedangkan sampel sebagai mana yang diemikakan oleh Ine Wirman Yousa dan Zainal Arifin adalah bagian atau cuplikan dari populasi tersebut.
Adapun yang menjadi ppulasi dari penelitian ini adalah para guru dan kepala sekolah MTsN Malang 1.Yang berjumlah    orang dengan rincian laki-laki   wanita   . mengingat jumlah populasi yang kurang dari 100 orang, maka dalam penelitian ini sampel diambil dari keseluruan populasi yang disebut dengan iostilah “sampel total”. Hal ini dimakasutkan untuk mengetahui semua data dalam populasi. Pengambilan sampel penelitian dari keseluruan populasi ini didasarkan atas beberapa pertimbangan antara lain:
1.      Apabila jumlah keseluruan populasi kurang 100 orang, maka sampel diambil   secar keselruan, sebagai ana kdikatakan oleh suharsimi ariknto ‘untuksekedar ancer-ancer, maka apabila subyeknya kurang dari 100, lebih baik diambil semua sehingga penelitiannya merupakan penelitiannya merupakan penelitian pioplasi”.[7]
2.      Denan diambil seluruh jumlah guru dan kepal sekolah, maka diaharapkan hasil penelitian lebih cvalit dan lebih obyektif.
3.      Keseluruan dari guru dan kepala sekolah tidak mencapai jumlah 100, maka sebagai ketentuan sampe harus diteliti secara keseluruan.

b. Tehnik Pengumulan Data
Untuk mengumplan data yang diperlkan, peru adanya tehnik pengumpulan data agar bukti-bukti dan fakta-fakta yangdiperoleh sewbagai ata yang obyektif, valit dan tidak terjadi penyimpangan-penyimpangan dari keadaan yang sebenarnya. Alam pengumulan data sekripsi ini, penulis menggunakan tehnik atau metode sebagai berikut:
1.      Metode Observasi
Metode observasi adalah studi yang disengaja dan sistematis tentang fenomena sosial an gejala-gejala psikis dengan jalan pengamatan data pencatatan.[8]
Dalam halini penulsan menggunakan metode observasi langsung, yaitu akan mengadakan dan pencatatan dalam situasi ynag sebenarnya.metode ini digunakan peneliti untuk mengamati seara langsung tentang keadaan obyek penelitian, keadaan dan sarana prasarana, keadaan fasilitas pendukung, proses belajar mengajar.
2.      Metode Wawancara.
Metode wawancara atau interview adalah suatu percakapan atau tanyak jawab lisan antara dua orang atau lebih yang duduk berhadapan secara fisik dan diarahkan pada suatu masalah.[9]
         Metode ini gunakan untuk memperoleh informasi dari sumber data yaitu kepala sekolah tentang sejarah berdiirinya, usaha-usaha peningkatan profesionalisme guru dala proses belajar mengajar dan hal-hal lain yang ada hubungannya denga pokok pemahasan.
3.      Metode Angket
Metode angket adalah pengiumpulan ata melalui daftar peranyaan secara tertulis yang disusun dan disebarkan untuk mendapatkan informasi atau kerangan dari sumber data yang berupa orang.[10]
Metode ini digunakan untuk memperoleh data dari guru an kepala sekolah MTsN Mlang 1, yang berkaitan dengan profesionalisme yang dimiliki koleh guru, pelaksanaan tugas guru, faktor-faktor yang mempengaruhi terhadap peningkatan profesionaisme guru.
4.      Metode Dokumen
Metode dokumen adalah mencari data mengenai ha-hal atau variabel yang berupa catatan, transkib, buku-buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen, agenda dan sebagainya.[11]
Maksut dari metode dokumen ini adalah metode pengumpulan data dengan cara menguntip pada tulisan atau catatan-catatan tertentu yang dapatmemberikan bukti atau keterangan tentang satuneristiwa. Metode in dugunakan untuk memperoleh data tentang keadaan jumlah guru, baik ditinjaudari segi pengalaman-penalaman pendididkan yang ditempuh maupun dari segi penggunan metode, sarana pendiddikan, dan pelaksanaan kegiatan proses belajar mengajar.
c. Tehnik Analisis Data
Dalam menganalisis data yang penulis peroleh dari hasil observasi, interviw, angket dan dokumenasi, penulis menggunakan analisais deskriptif kualitatif dan deskriptif kuantitatif. Setelah data terkumpul langkah selanjutnya adalah pengujian dan analisis data.
Dalam menganalisis data ini digunakan tehnik yang sesuai dengan data yaitu data deskriptif. Adapun yang damaksud dengan deskriptif menurut winarno herakunto, adalah menentukan dan memfikirkan data yang ada,. Misalnya tentang situasi yang dialami, satu hubungan, kegiatan, pandangan, sikap yang nampak, atau tentang suatu roses yang sedang berlagsung, penasuh yang sedang bekerja, klainan yang sedang muncul, kecenderungan yang nampak, pertentangan yang meruncing dan sebagainya.[12]
Dengan demikian data yangbtelah terkumpul, kemudian disimpulkan dan ditafsirkan, sehingga terdapat berbagai masalah yang tidak dapat diuraikan dengan tepat dan jelas. Jadi tehnik analisis deskriptif kualitatif, penulis gunakan untuk menentukan, menafsirkan dan menguraikan data yang penulis peroleh dari, observasi, interview dan dokumentasi. Sedangkan data yang berupa angka dari hasil angket, penulis gunakan analisis deskriptif kuantitatif dengan rumus:

F = P / N
Keterangan:
P = prosentase yang dicari
F = frekuensi yang sedang dicari
N = jumlah responden secara keseluruan[13] 

d. Sistematika Pemahasan
Sistematika yang dimaksut disini adalah merupakan keseluruhan dari isi penelitian secara tingkat yang terdiri dari empat Bab. Dari bab-bab tersebut terdapat sup-sup bab yang merupakan rangkain dari urutan pembahasan dalam penelitian.
Maka sistematika pembahasannya dalam penulisan sekripsi ini adalah sebagai berikut:
Bab I merupakan bab pendahuluan yang berisis tentang penjelasan latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, kegunaan penelitian, ruang lingkup masalah, metode pembahasan, dan penelitian dan sistematika pembahasan.
Bab II merupakan pembahasan tentang kajian teori, berisi: pengertian profesionalisme guru, tugas dan tanggung jawab guru, dan kompentensi profesionalisme guru. Kemudian belajar mengajar meliputi: pengertian proses belajar mengajar, beberapa faktor yang mempengarui proses belajar mengajar, fungsi terjun dalam proses belajar mengajar dan tingkatan proses belajar mengajar, upaya peningkatan profesionalisme guru dalam proses belajar mengajar yang terdiri dari upaya penigkatan profesionalisme guru. Dan faktor-faktor yang mempenaruhi upaya peningkatan profesionalisme guru dalam proses belajar mengajar.
Bab III berisi hasil penitian yang membahas latara belakang obyek penelitian mencakupi sejarah sinkatberdirinya MTsN Malang 1, struktur organisasi MTsN Malang 1, keadaan guru dan pegawai MTsN Malang 1.dan keadaan sarana dan prasarana MTsN Malang 1. serta penyajian data dan analisis data.
Bab 1V merupakan bab terakhir yang berisi tentang kesimpulan pegawai dan dilengkapi dengan saran-saran.   
 

[1] Hadari nawawi, Organisasi Sekolah dan Pengelolaan Kelas Sebagai Lembaga Pendidikan (Jakarta:CV. Haji masagung, 1989), hal.126-127
[2] Ibid. hal.123
[3] Undana-Undang  Sistem Pendidikan Nasional ,(Bandung:Citra Umbara,2003), hal.29
[4] Sutrisno Hadi, Metodologi Research Jilid I.(Yogyakarta: Penerbit andi offset.1993)hal. 42
[5] Ibid, hal. 45
                [6] Suharsini, prosewdur penelitian suatu pendekatan praktek. (jakarta. Rineke cipta.1993)hal. 102
[7]  Ine Wirman Yousa dan Zainal Arifin. Penelitian dan Stattistik Pendidikan (Jakarta.Bumi     Aksara.1995) hal. 26
[8] Kartini Kartono. Pengatar Metodologi Riset Sosial (Alumni Bandung.1986) hal. 142      
[9] Ibid. hal. 171
[10] Ibid. hal. 200
[11] Suharsiomin Arikunto op.cit. hal. 236
[12] Winarno Herakunto, Pengantar Pendidikan Ilmiah Dasar dan Metode. (Bandung:Tarito,1990)hal. 39
[13] Anas sudiono,pengantar statistik pendidikan.(Jakarta. Rajawali,1997)hal. 40

PENTING
Untuk kecepatan dan kenyamanan download kelengkapan skripsi diatas, login atau daftar dahulu disini (gratis).
Setelah anda login di ziddu, silahkan anda download kelengkapan skripsi diatas dengan gratis klik di sini
Untuk membuka skripsi hasil download anda bias menggunakan program winrar Untuk download winrar secara gratis klik disini

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

TINGKAT DAYA SERAP SISWA TERHADAP PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SEKOLAH MENENGAH PERTAMA NEGERI 3 BATU


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta tuntutan perubahan paradigma baru belajar dan pembelajaran di abad XXI lebih menekankan pada: 1) tuntutan belajar sepanjang hayat. 2) tuntutan pembelajaran yang bergeser mengacu pada abad pengetahuan dan global education. 3) adanya berbagai temuan melalui kajian ihwal metodologi pembelajaran dalam kaitannya dengan gaya belajar siswa dan otak yang berimplikasi pada perlunya perubahan pembelajaran. 4) kebijakan pemerintah terhadap peningkatan mutu pendidikan, baik proses maupun hasil pembelajaran dengan mencanangkan kebijakan pengembangan kurikulum berbasis kompetensi yang harus dikuasai oleh peserta didik (Muhaimin, 2003:127).
Peningkatan pendidikan meliputi seluruh aspek dalam pendidikan merupakan hal yang starategis dalam membentuk bangsa yang berkualitas. Kualitas kehidupan bangsa sangat ditentukan oleh faktor pendidikan. Pendidikan mempunyai peran yang sangat penting untuk menciptakan kehidupan yang cerdas, damai, terbuka, dan demokratis. Oleh karena itu pembaruan pendidikan harus selalu dilakukan untuk meningkatkan kualitas pendidikan nasional. Dalam undang-undang sistem pendidikan nasional pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi diri, kepribadian, kecerdasan, akhlaq mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara (UUSPN, 2003:2).
Pendidikan nasional mempunyai tujuan sebagaimana yang telah tertera dalam GBHN, yaitu: Pendidikan nasional yang berdasarkan pancasila dan bertujuan untuk meningkakan ketaqwaan terhadap Tuhan yang Maha Esa, kecerdasan, keterampilan, mempertinggi budi pekerti, memperkuat keperibadian, mempertebal semangat kebangsaan dan cinta tanah air, agar dapat membangun dirinya sendiri serta bersama-sama bertanggung jawab atas pembangunan bangsa.
Pendidikan nasional dewasa ini sedang dihadapkan pada empat krisis pokok, yang berkaitan dengan kuantitas, relevansi atau efisiensi eksternal, elitisme, dan manajemen. Lebih lanjut dikemukakan bahwa sedikitnya ada tujuh masalah pokok sistem pendidikan nasional:1) menurunnya akhlak dan moral peserta didik. 2) pemerataan kesempatan belajar, 3) masih rendahnya efisiensi internal system pendidikan, 5) status kelembagaan, 6) manajemen pendidikan yang tidak sejalan dengan pembangunan nasional, dan 7) sumber daya yang belum professional (Mulyasa, 2002:4)
Lebih-lebih dunia pendidikan sekarang ini dihadapkan pada pendidikan yang kompetitif dan inovatif. Di dalam persaingan diperlukan kualitas individu sehingga hasil karya atau produk-produk yang dihasilkan dapat berkompetisi yang berarti mendorong kearah kualitas yang semakin lama semakin meningkat. Kualitas yang baik dan terus meningkat hanya dapat diciptakan oleh manusia-manusia yang mempunyai kemampuan berkompetisi. Kemampuan untuk berkompetisi dihasilkan oleh pendidikan yang kondusif bagi lahirnya pribadi-pribadi yang kompetitif (Tilaar, 2000:15).
Dalam konteks pembaharuan pendidikan, ada tiga isu yang perlu disoroti, yaitu pembaruan kurikulum, peningkatan kualitas pembelajaran, dan efektifitas metode pembelajaran. Kurikulum pendidikan harus komprehensif dan responsive terhadap dinamika sosial, relevan, tidak over load, dan mampu mengakomodasi keberagaman keperluan dan kemajuan teknologi. Kualitas pembelajaran harus ditingkatkan untuk meningkatkan kualitas hasil pendidikan. Dan secara mikro, harus ditemukan strategi atau pendekatan pembelajaran yang efektif di kelas, yang lebih memberdayakan potensi siswa. Ketiga hal itulah yang sekarang menjadi fokus pembaruan pendidikan di Indonesia (Nurhadi, dkk, 2004:2).
Selain itu kualitas hasil belajar dewasa ini menjadikan siswa yang menguasai bahan pelajaran dengan dihafal dari pada menguasai keahlian tertentu. sebagian besar dari siswa tidak mampu menghubungkan antara apa yang mereka pelajari dengan bagaimana pengetahuan tersebut akan digunakan/ dimanfaatkan. Siswa memiliki kesulitan untuk memahami konsep akademik sebagaimana mereka biasa diajarkan, yaitu menggunakakan sesuatu yang abstrak dan metode ceramah. mereka sangat butuh untuk memahami konsep-konsep yang berhubungan dengan tempat kerja dan masyarakat pada umumnya dimana mereka akan hidup dan bekerja (Depdiknas, 2002:1 dalam Nurhadi, dkk, 2004:3).
Pada pendidikan formal, Sekolah seharusnya lebih peka terhadap masalah- masalah tersebut, termasuk juga dengan kemajuan zaman, kemajuan Ilmu pengetahuan dan teknologi yang terus berubah dengan cepat, sehingga sekolah dapat bersegera dalam melakukan perbaikan dalam peningkatan kualitas pendidikan. Disamping hal itu guru adalah praktisi yang paling bertanggung jawab atas berhasil tidaknya program pembelajaran di sekolah atau madrasah. Hal ini disebabkan karena seorang guru merupakan ujung tombak atau memiliki peran yang penting dalam kegiatan pembelajaran di ruang kelas. Guru juga turut menentukan kualitas pendidikan, sebagaimana Tilaar (2000:14), bahwa kunci utama peningkatan kualitas pendidikan ialah mutu para gurunya.
Di tengah tengah persaingan global dan ketidakpastian pada abad 21 ini, Karen Penner mengatakan bahwa: disini kita lihat betapa agama akan muncul kembali sebagai pegangan hidup manusia di tengah-tengah kemajuan ilmu pengetahuan (Tilaar, 200:146).
Sekolah sebagai lembaga pendidikan dalam menyelenggerakan pendidikan yang kondusif perlu memiki dasar pijakan penyelenggaraan pendidikan, khususnya pendidikan agama, adalah sangat penting. Penyelenggaraan pendidikan agama di sekolah umum yang meliputi sekolah dasar sampai perguruan tinggi negeri telah tertuang dalam ketetapan MPRS No. XXVII/ MPRS/ 1966 Bab I pasal I yang berbunyi:
“Menetapkan Pendidikan Agama menjadi mata pelajaran di sekolah-sekolah mulai dari sekolah dasar sampai Universitas Negeri”(Zuhairini, dkk, 1981:17).

Kemudian dikuatkan dan disempurnakan oleh ketetapan MPR no. II/MPR/1983 sebagai berikut:
Diusahakan terus bertambah sarana-sarana yang diperlukan bagi pengembangan kehidupan keagamaan dan kepercayaan terhadap tuhan yang maha esa, termasuk pendidikan agama yang dimaksukkan kedalam kurikulum sekolah-sekolah mulai dari sekolah dasar sampai universitas-universitas negeri (Himpunan Ketetapan MPR 1993, 1983:112).

            Dengan landasan tersebut pendidikan agama di Indonesia dapat dilaksanakan oleh lembaga pendidikan yang berkaitan. Sekolah sebagai lembaga pendidikan formal dalam usaha untuk mencapai tujuan pendidikan khususnya pendidikan agama Islam, pada umumnya sekolah dalam menyelenggarakan pendidikan tidak lepas dengan kegiatan belajar mengajar.
Sekolah dalam menyelenggarakan kegiatan belajar mengajar (KBM) perlu memperhatikan komponen didalamnya. Menurut Zuhairini dalam kegiatan belajar mengajar terdiri dari beberapa komponen, yaitu: 1. Peserta didik. 2. Pendidik. 3. Tujuan pendidikan. 4. Alat-alat pendidikan, dan 5. Lingkungan/ Mileu (Zuhairini, dkk, 1993:22). Dari komponen-komponen tersebut peserta didik merupakan  komponen yang paling penting dalam KBM. Karena tanpa adanya peserta didik pendidikan tidak akan berlangsung, peserta didik merupakan bahan mentah yang akan mengalami proses pendidikan.
Siswa dapat memahami isi pelajaran dengan menggunakan pancaindra yang sehat. Pancaindera mempunyai peranan yang penting dalam KBM sebagai alat yang digunakan untuk  menangkap berbagai informasi yang diberikan. Dengan kondisi panca indera yang baik memungkinkan KBM dapat berjalan dengan baik dan baiknya pancaindera merupakan syarat utama dalam balajar, sebagaimana yang diungkapkan oleh Sumadi Suryabrata, bahwa: baiknya fungsinya pancaindera merupakan syarat dapatnya belajar itu berlangsung dengan baik (Suryabrata, 1998:236). Hal ini dapat dipahami bahwa: baik tidaknya pancaindera mempengaruhi kemampuan belajar setiap indifidu.
Dengan memperhatikan permasalahan tentang peningkatan kualitas pembelajaran dan berbagai masalah yang dihadapi dalam proses pembelajaran maka harus merencanakan dan menemukan desain atau  pembelajaran yang tepat dan efektif yang bisa memecahkan masalah-masalah tersebut. Hal ini didukung oleh hasil penelitian Chair (1998), yang menunjukkan bahwa kegiatan pembelajaran yang diawali dengan melakukan kegiatan penyusunan perencanaan akan meningkatkan kualitas pembelajaran dan meningkatkan hasil belajar (Muhaimin, 2002:190).
Selain hal tersebut guru harus menyadari kondisi siswa baik fisik maupun psikis yang memiliki perbedaan pada masing-masing indifidu. Kemampuan siswa yang berbeda-beda dalam menerima pelajaran mengakibatkan perbedaan pula pada hasil evaluasi pendidikan, terlepas dari faktor pendukung maupun penghambatnya. Perbedaan pada kemampuan setiap individu dalam menyerap pelajaran diasumsikan menjadi sebuah penghalang untuk mencapai prestasi yang optimal. Persoalan inilah yang melatarbelakangi dan mendorong penulis untuk meneliti kemampuan siswa, dengan maksud untuk mengetahui tingkat pemahaman siswa dalam menyerap pelajaran pendidikan agama Islam di sekolah menengah pertama, sebagai landasan sekaligus pertimbangan dalam penerapan pendidikan agama Islam kedepan. Selain itu di SMP pada tingkat ini daya serap siswa terhadap pendidikan agama Islam sangat menentukan akhlak siswa sebagai manusia muda untuk dasar menjalani kehidupan selanjutnya.
Adapun penelitian ini akan dilaporkan dalam bentuk skripsi yang berjudul TINGKAT DAYA SERAP SISWA TERHADAP PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMP NEGERI 3 BATU.

B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan. Maka dapat ditarik beberapa rumusan masalah, yaitu:
1.            Bagaimana Tingkat Daya Serap Siswa terhadap Pendidikan Agama Islam di SMP Negeri 03 Batu?
2.            Bagaimana upaya peningkatan Daya Serap Siswa dengan penerapan Metode dan penggunaan Media pembelajaran terhadap Pendidikan Agama Islam di SMP Negeri 03 Batu?
3.            Faktor-faktor apa yang dapat menjadi pendukung dan penghambat Daya Serap Siswa terhadap Pendidikan Agama Islam di SMP Negeri 03 Batu?

C.    Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah diatas maka yang menjadi tujuan dalam penelitian ini adalah:
1.            Mengetahui Tingkat Daya Serap Siswa terhadap Pendidikan Agama Islam di SMP Negeri 03 Batu.
2.            Mengetahui sejauh manakah penggunaan Metode dan Media pembelajaran dalam meningkatkan Daya Serap Siswa terhadap Pendidikan Agama Islam di SMP Negeri 03 Batu.
3.            Mengetahui sejauh manakah penggunaan media pembelajaran dalam meningkatkan Daya Serap Siswa terhadap Pendidikan Agama Islam di SMP Negeri 03 Batu.
4.            Mengetahui faktor-faktor pendukung dan penghambat Daya Serap Siswa terhadap Pendidikan Agama Islam di SMP Negeri 03 Batu.

D.    Manfaat Penelitian
Dari tujuan penelitian tersebut dapat diperoleh beberapa manfaat, yaitu:
1.            Sebagai kontribusi bagi penyelenggara pendidikan di sekolah.
2.            Untuk menjadi bahan kaian dalam dunia pendidikan khususnya pendidikan agama islam.
3.            Untuk menambah pemahaman penulis dalam penyelenggaraan pendidikan.

E.     Ruang Lingkup Penelitian
Supaya dapat menghasilkan pembahasan yang terarah maka perlulah adanya ruang lingkup penelitian atau batasan masalah agar pembahasan dalam skripsi ini dapat terarah dengan tepat.
Adapun hal-hal yang akan penulis batasi adalah Tingkat Daya Serap Siswa terhadap Pendidikan Agama Islam di SMP Negeri 3 Batu. Dengan demikian lingkup masalah hanya pada lingkungan Smp Negeri 3 Batu.

F.     Sistematika Pembahasan
Untuh mempermudah penyusunan dalam skripsi ini, maka peneliti akan membahas tentang sistematika pembahasan yang akan digunakan sebagai berikut:
Bab I dimulai dengan pendahuluan yang terdiri dari beberapa sub, yaitu: Latar Belakang Masalah, Rumusan Masalah, Tujuan Penelitian, Manfaat Penelitian dan Sistematika Pembahasan.
Bab II kajian teori terdiri dari beberapa pembahasan. Pertama pembahasan tentang teori-teori Daya Serap Siswa meliputi pengertian Daya Serap Siswa dan faktor-faktor yang mempengaruhiya, kedua pembahasan tentang Pendidikan Agama Islam yang meliputi: pengertian Pendidikan Agama Islam, dasar dan tujuan, Pendidikan Agama Islam dan Pendidikan Agama Islam di sekolah. Yang ketiga membahas tentang upaya meningkatkan Daya Serap Siswa terhadap Pendidikan Agama Islam yang meliputi: penerapan Metode pembelajaran untuk meningkatkan Daya Serap Siswa terhadap Pendidikan Agama Islam, penggunaan Media dalam meningkatkan Daya Serap Siswa terhadap Pendidikan Agama Islam dan faktor-faktor pendukung dan penghambat Daya Serap Siswa terhadap Pendidikan Agama Islam.
Bab III berisi tentang metode penelitian, yang terdiri dari pendekatan penelitian, penentuan populasi dan sample, pembuatan instrument penelitian, metode pengumpulan data dan teknik analisa data.
Bab IV hasil dan pembahasan berisi tentang laporan penelitian yang menyangkut gambaran global laporan penelitian yang terdiri dari hasil penelitian dan pembahasan.
Bab V penutup dalam bab ini berisikan kesimpulan dan saran dilengkapi dengan darter pustaka serta lampiran-lampiran.

PENTING
Untuk kecepatan dan kenyamanan download kelengkapan skripsi diatas, login atau daftar dahulu disini (gratis).
Setelah anda login di ziddu, silahkan anda download kelengkapan skripsi diatas dengan gratis klik di sini
Untuk membuka skripsi hasil download anda bias menggunakan program winrar Untuk download winrar secara gratis klik disini

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS